Cimahi, NyaringIndonesia.com – Pernah merasa sulit tidur setelah begadang atau bekerja hingga malam? Kondisi tersebut bisa jadi merupakan social jet lag, yaitu keadaan ketika jam biologis tubuh tidak cocok dengan jadwal aktivitas harian. Fenomena ini semakin umum terjadi seiring gaya hidup modern yang membuat pola tidur semakin kacau dan paparan sinar matahari alami berkurang.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Para peneliti menemukan bahwa gangguan pada ritme sirkadian dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Studi terbaru dari University of Auckland mengungkap bahwa ritme sirkadian yang kuat yang terbentuk melalui paparan cahaya alami secara konsisten sangat penting untuk menjaga fungsi imun tetap optimal. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science Immunology dan turut dilaporkan oleh Science Alert.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menemukan bahwa sistem kekebalan tubuh dapat mengenali kapan waktu siang. Penemuan ini berasal dari pengamatan terhadap sel darah putih bernama neutrofil pada larva ikan zebra.
Neutrofil merupakan sel imun utama yang bertugas membasmi bakteri dan jumlahnya paling banyak dibandingkan sel imun lainnya. Dengan memanfaatkan tubuh ikan zebra yang transparan, para peneliti dapat melihat secara langsung bagaimana neutrofil bergerak saat menyerang bakteri.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa neutrofil lebih efektif membunuh bakteri pada siang hari, ketika ikan dalam kondisi aktif.
“Kami menemukan bahwa kemampuan neutrofil dalam membasmi bakteri meningkat pada siang hari dibandingkan malam,” jelas Chris Hall, Associate Professor bidang Imunologi dari University of Auckland yang memimpin studi ini.
Tim peneliti kemudian melakukan rekayasa genetika untuk mematikan jam biologis dalam neutrofil. Akibatnya, kemampuan sel ini melawan infeksi menurun drastis. Hal tersebut menunjukkan bahwa neutrofil memiliki jam sirkadian internal yang bekerja layaknya alarm, memberi sinyal bahwa waktu siang telah tiba sehingga sel bisa meningkatkan kinerjanya.
“Jam ini bekerja seperti sistem pendeteksi cahaya internal yang mengatur aktivitas sel sesuai waktu,” ujar Hall.
Temuan tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan obat yang dapat mengatur fungsi neutrofil melalui pengaruh terhadap jam internalnya, mengingat pentingnya peran sel ini dalam peradangan dan berbagai kondisi medis lainnya.
Langkah riset selanjutnya adalah mencari tahu bagaimana neutrofil bisa “merasakan” adanya cahaya dan apakah mekanisme serupa terjadi pada manusia. Para peneliti juga ingin memahami apakah peningkatan kemampuan neutrofil pada siang hari hanya berlaku untuk infeksi bakteri tertentu atau juga mencakup infeksi lain seperti virus.
“Dengan mengatur waktu kerja sel imun, kita bisa menciptakan terapi baru yang lebih tepat sasaran untuk menangani penyakit inflamasi,” kata Hall.
Penelitian ini dipimpin oleh mahasiswa doktoral Lucia Du dan Pramuk Keerthisinghe, bekerja sama dengan tim dari Chronobiology Research Group, Fakultas Ilmu Kesehatan, University of Auckland.
=======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News