Pertamax Naik Tajam, Kurir Pilih Isi Pertalite 

IMG 20260611 191457
Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mendorong sejumlah pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari cara menekan pengeluaran harian

 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mendorong sejumlah pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari cara menekan pengeluaran harian.

Salah satunya dilakukan Yudi (30), seorang kurir paket asal Cimahi, yang memutuskan beralih menggunakan Pertalite demi mengurangi biaya operasional di tengah melonjaknya harga BBM non-subsidi.

Diketahui, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan tersebut membuat pengeluaran harian para pekerja lapangan, termasuk kurir pengiriman barang, semakin membengkak.

Yudi mengaku keputusan beralih ke Pertalite terpaksa diambil agar penghasilannya tidak semakin tergerus. Sebagai kurir yang setiap hari mengantarkan paket ke berbagai wilayah di Bandung Raya, kebutuhan bahan bakar menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam pekerjaannya.

“Kalau tetap menggunakan Pertamax, biaya operasional jadi terlalu besar. Sekarang saya memilih Pertalite supaya pengeluaran harian bisa lebih ditekan, meskipun harus mengantre lebih lama di SPBU.” ujarnya saat ditemui pada Kamis. (11/06/26).

Menurut Yudi, kenaikan harga BBM tidak diikuti dengan penyesuaian tarif pengiriman. Sementara itu, kurir tetap harus menyelesaikan seluruh pesanan, termasuk pengiriman dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis.

” Sebelum kenaikan harga BBM, saya masih dapat menyisihkan sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Namun kini, pendapatan bersih yang dibawa pulang hanya berkisar Rp60 ribu per hari setelah dipotong biaya operasional.” ungkapnya.

Selain beralih ke Pertalite, Yudi terkadang terpaksa membeli bensin eceran ketika kehabisan bahan bakar saat berada di tengah perjalanan dan jauh dari SPBU.

“Kalau sedang di jalan dan bensin habis, mau tidak mau beli eceran. Yang penting pekerjaan tetap selesai dan paket bisa sampai ke pelanggan.” katanya.

Yudi berharap perusahaan jasa ekspedisi dapat mempertimbangkan penyesuaian tarif pengiriman agar beban yang ditanggung kurir tidak semakin berat. Menurutnya, kenaikan biaya operasional yang terus terjadi tanpa diimbangi peningkatan pendapatan berpotensi memengaruhi kesejahteraan para pekerja di sektor logistik.

“Kami tetap harus bekerja dan mengantarkan paket tepat waktu. Tapi kalau biaya terus naik sementara penghasilan tetap, tentu akan semakin sulit bagi kurir.” pungkasnya. (Bzo)