Bukan Selandia Baru yang menjadi lawan paling keras Iran di Los Angeles, melainkan sesama rakyatnya sendiri. Di tengah sorak gol dan bendera berkibar, luka politik yang telah menganga puluhan tahun kembali terbuka di panggung Piala Dunia.
LOS ANGELES, NYARINGINDONESIA.COM – Pertandingan Iran melawan Selandia Baru di Piala Dunia 2026 seharusnya hanya tentang sepak bola. Jadwal resmi FIFA mencatat duel itu sebagai laga fase grup biasa di Stadion Los Angeles. Namun, yang terjadi justru jauh lebih besar dari sekadar perebutan poin.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Di luar stadion, musuh paling vokal Iran bukanlah Selandia Baru. Mereka adalah warga Iran sendiri.
Dilansir dari BBC News Indonesia, sejak beberapa jam sebelum kick-off, suasana di sekitar stadion sudah terasa berbeda. Ratusan warga keturunan Iran memadati area luar stadion sambil membawa bendera era sebelum Revolusi 1979, lengkap dengan lambang Singa dan Matahari yang selama ini dianggap simbol perlawanan terhadap rezim di Teheran.
Di antara lautan manusia itu, teriakan politik menggema lebih keras daripada lagu-lagu sepak bola.
“Tim Mullah bukan tim saya!”
“Pergantian rezim di Iran!”
Seruan-seruan itu terus bergema, menciptakan suasana yang lebih menyerupai demonstrasi politik dibanding pesta sepak bola terbesar dunia.
Ironisnya, FIFA telah melarang atribut tersebut masuk ke stadion karena dianggap bernuansa politik. Namun kenyataannya, bendera Singa dan Matahari tetap berkibar di berbagai sudut tribun, seolah menjadi simbol bahwa konflik identitas Iran tak bisa dibendung oleh aturan stadion.
Namun pemandangan yang lebih menarik justru muncul ketika memasuki arena pertandingan.
Di luar stadion, sebagian orang datang untuk memprotes tim nasional mereka sendiri. Di dalam stadion, ribuan lainnya berdiri dan bernyanyi mendukung para pemain Iran dengan penuh semangat.
Ketika Iran berhasil bangkit dari ketertinggalan dan memaksakan hasil imbang 2-2 melawan Selandia Baru, stadion bergemuruh oleh sorakan.
Di satu sisi tribun berkibar bendera resmi Republik Islam Iran. Di sisi lain, bendera Singa dan Matahari juga terus melambai. Semuanya mengenakan warna merah, putih, dan hijau yang sama, tetapi membawa keyakinan yang sangat berbeda.
Hari itu, yang terlihat bukan sekadar Iran melawan Selandia Baru.
Yang terlihat adalah Iran melawan Iran.
“Saya di sini mendukung Iran, bukan rezimnya,” kata Samaneh, warga Iran-Amerika yang telah tinggal di Amerika Serikat selama sepuluh tahun.
Baginya, sepak bola menjadi ruang yang mempertemukan cinta terhadap tanah air dengan ketakutan terhadap kondisi negaranya sendiri.
Ia mengaku menangis saat lagu kebangsaan Iran dikumandangkan.
Di tengah suasana emosional itu, ia bercerita tentang ibunya yang masih berada di Iran dan kesulitan bepergian akibat berbagai kebijakan serta ketegangan politik yang terus berlangsung.
Kontradiksi itu terlihat jelas sepanjang pertandingan.
Saat Selandia Baru mencetak gol dan unggul lebih dulu, sebagian penonton anti-rezim justru bersorak kegirangan. Bagi mereka, kemenangan tim nasional Iran dianggap sebagai kemenangan pemerintah yang mereka tolak.
Namun tidak semua memiliki pandangan yang sama.
Mehdi Taremi dan rekan-rekannya berkali-kali menegaskan bahwa mereka bermain untuk seluruh rakyat Iran, bukan untuk kepentingan politik tertentu.
Banyak suporter di stadion juga memilih memisahkan antara pemain dan pemerintah.
“Sepak bola adalah tentang persahabatan dan hubungan antarmanusia,” ujar Mostafa, seorang warga Iran-Amerika.
Pendapat serupa datang dari Elika yang hadir untuk mengenang mendiang ayahnya. Menonton Iran di Piala Dunia selalu menjadi tradisi keluarga yang kini berusaha ia pertahankan.
“Saya mencoba memisahkan rezim dari tim ini,” katanya.
Namun ketika peluit panjang berbunyi, realitas kembali berbicara.
Di luar stadion, demonstrasi kembali memanas. Isu pergantian rezim, hukuman mati, hingga hubungan Iran-Amerika kembali menjadi bahan perdebatan panas.
Pada akhirnya, pertandingan itu menghasilkan skor 2-2. Tetapi hasil tersebut bukanlah cerita utama yang dibawa pulang ribuan orang dari Los Angeles.
Yang lebih membekas justru sebuah kenyataan pahit: bahwa di tengah upaya tim nasional menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu, Piala Dunia 2026 malah memperlihatkan betapa dalamnya perpecahan yang masih membelah rakyat Iran.
Hari itu, sepak bola memang dimainkan selama 90 menit.
Namun pertarungan sesungguhnya berlangsung jauh lebih lama—dan tidak terjadi di atas lapangan.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

