JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu janji politik utama Presiden Prabowo Subianto dikabarkan tengah memasuki fase evaluasi besar-besaran. Di tengah tekanan terhadap kondisi fiskal negara serta meningkatnya sorotan terhadap tata kelola, pemerintah disebut tengah menyiapkan langkah efisiensi yang berpotensi memangkas anggaran hingga puluhan triliun rupiah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mengacu pada laporan Reuters yang mengutip dua sumber internal serta dokumen presentasi pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan pengurangan anggaran program sedikitnya 15 persen dari total pagu tahun ini sebesar Rp268 triliun.
Artinya, anggaran program berpotensi berkurang sekitar Rp40 triliun. Bahkan, salah satu sumber menyebut nilai efisiensi dapat mencapai Rp50 triliun, meski keputusan final masih dalam tahap pembahasan.
Tak hanya anggaran, jumlah penerima manfaat juga dikabarkan akan dievaluasi. Dari target sekitar 62,5 juta penerima pada tahun ini, angka tersebut berpotensi dikurangi menjadi sekitar 49 juta orang. Namun, pemerintah disebut masih melakukan kajian sehingga jumlah akhirnya belum diputuskan.
Kementerian Keuangan menyatakan masih menunggu usulan resmi penajaman anggaran dari Badan Gizi Nasional sebelum menentukan langkah lanjutan. Hingga kini, baik BGN maupun Kantor Presiden belum memberikan penjelasan resmi terkait rencana tersebut.
Berdasarkan dokumen presentasi internal yang disiapkan untuk parlemen, pemerintah juga berencana memperketat kriteria penerima bantuan dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat agar program lebih tepat sasaran.
Selain itu, ekspansi jaringan dapur umum yang menjadi tulang punggung distribusi makanan bergizi juga akan ditahan. Penambahan lebih dari 13.000 dapur baru disebut akan dihentikan sementara sebagai bagian dari upaya efisiensi.
Program Makan Bergizi Gratis mulai dijalankan pada Januari 2025 dan berkembang menjadi salah satu program bantuan pangan terbesar di dunia. Semula, pemerintah menargetkan 83 juta penerima dengan alokasi anggaran mencapai Rp335 triliun pada 2026.
Namun pada Mei lalu, anggaran tersebut telah dikoreksi menjadi Rp268 triliun. Jika usulan efisiensi terbaru disetujui, maka nilai anggaran program akan kembali menyusut.
Dalam dokumen yang sama juga disebutkan bahwa target 83 juta penerima tidak lagi menjadi prioritas untuk dikejar pada tahun ini.
Evaluasi terhadap program MBG muncul tak lama setelah pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional. Kepala BGN sebelumnya diberhentikan oleh Presiden Prabowo sebelum kemudian ditangkap dalam kasus dugaan penyalahgunaan wewenang dan tindak pidana korupsi.
Salah satu sumber menyebutkan bahwa penyesuaian anggaran bukan semata dipicu oleh keterbatasan fiskal, tetapi juga hasil evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaan program.
“Anggaran perlu ditata ulang agar pemerintah dapat melihat secara objektif mana pengeluaran yang benar-benar dibutuhkan,” ujar sumber tersebut.
Sumber lain mengungkapkan, dari sekitar 27.000 dapur yang telah beroperasi, hanya sekitar 21.000 yang dinilai masih diperlukan. Pemerintah kini juga menerapkan moratorium pembangunan dapur baru dan melakukan penyesuaian distribusi makanan, termasuk penghentian sementara selama masa libur sekolah.
Di sisi lain, sejumlah pejabat pemerintah menolak menyebut langkah tersebut sebagai pemotongan anggaran. Mereka lebih memilih istilah “efisiensi”, “penajaman anggaran”, atau “penataan ulang program” guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan tanpa mengurangi tujuan utama program.
Sejumlah pengamat menilai penggunaan istilah tersebut juga bertujuan menghindari persepsi negatif di tengah publik. Secara fiskal, langkah efisiensi dianggap sebagai keputusan yang rasional, namun dari sisi politik berpotensi memengaruhi tingkat kepuasan masyarakat terhadap salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo.
Hingga saat ini, pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai besaran efisiensi yang akan diterapkan maupun dampaknya terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis ke depan.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

