Keluhan mengenai aroma sampah yang menyengat dari operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong masih dirasakan siswa dan tenaga pendidik SD Negeri Pambudi Dharma, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan konsentrasi selama proses belajar mengajar berlangsung
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Keluhan mengenai aroma sampah yang menyengat dari operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong masih dirasakan siswa dan tenaga pendidik SD Negeri Pambudi Dharma, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan konsentrasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
Selain bau sampah yang kerap menyelimuti lingkungan sekolah, kebisingan serta getaran mesin pengolah sampah juga masih terasa hingga ke ruang kelas. Persoalan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga mendorong Pemerintah Kota Cimahi mencari solusi melalui serangkaian kajian.
Hasil kajian menetapkan relokasi SD Negeri Pambudi Dharma sebagai solusi terbaik. Saat ini, proses relokasi telah memasuki tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai langkah awal pembangunan gedung sekolah baru yang ditargetkan dimulai pada Juli 2026.
Sementara itu, Pemerintah Kota Cimahi mengalokasikan anggaran sebesar Rp243.992.500 untuk penyusunan DED. Setelah dokumen perencanaan selesai disusun, pembangunan fisik gedung sekolah baru dijadwalkan dimulai pada Juli 2026.
Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi, Ana Julia, mengungkapkan bahwa setelah melalui sejumlah kajian, relokasi menjadi salah satu penyelesaian paling strategis, namun lokasi baru harus tetap berada diwilayah sekolah yang lama.
” Berdasarkan hasil kajian kami, sekolah memang harus direlokasi tetapi jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat sekarang,” ujarnya. Kamis (2/7/26).
Sebelumnya, Disdik Kota Cimahi telah mengajukan beberapa solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satu opsinya menempatkan sementara proses belajar mengajar ke SDN Setiawarga di Kelurahan Cipageran.
“Kami sudah menawarkan beberapa pilihan kepada orang tua. Pertama, langsung direlokasi ke lokasi baru meskipun pembangunannya masih harus menunggu. Alternatif lainnya, siswa dititipkan ke sekolah lain, meskipun proses belajanya pada siang hari.” katan Ana
Namun, mayoritas dari orang tua dan pihak sekolah menolak usulan tersebut. Mereka lebih memilih tetap bertahan di Lokasi saat ini hingga gedung sekolah baru selesai dibangun.
” Mereka tak bersedia pindah ke SD lain, mereka memilih menunggu pembangunan sekolah baru selesai,” tandas Ana.
Lebih lanjut, Ana mengungkapkan, permasalahan tersebut telah menjadi perhatian sejak siswa mulai mengeluhkan aroma sampah dari TPST Sentiong.
“Sejak muncul keluhan bau yang dirasakan anak-anak, kami telah melakukan berbagai kajian. Kesimpulannya, mereka bersedia direlokasi asalkan lokasinya tidak terlalu jauh dan prosesnya segera direalisasikan,” ujarnya.
Sambil menunggu pembangunan dimulai, kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Pambudi Dharma masih berlangsung di gedung lama.
Tak hanya relokasi, Disdik Kota Cimahi juga telah mengkonsolidasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi untuk merespon keluhan warga sekolah terkait pengaruh TPST Sentiong.
“Sebelumnya juga kami telah mengatur langkah bersama dengan DLH untuk menangani keluhan warga sekolah. Alhasil, DLH mengarahkan agar sampah basah sementara tidak dikirim ke TPST Sentiong,” jelas Ana.
Adapun untuk pemanfaatan gedung lama SD Negeri Pambudi Dharma usai proses relokasi tntas. kewenanganya berada di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Cimahi.
“Kewenangannya kan berada di BPKAD. Saat kondisi darurat sampah beberapa waktu lalu, banyak sampah basah yang masuk ke lokasi tersebut.” pungkas Ana. (Bzo)

