Rencana Pencabutan PPKM, Momentum Pelaku Usaha Kembangkan Bisnisnya

Kasus Covid-19 berangsur menurun, kebijakan PPKM rencana segera di cabut. Pelaku usaha bebas melakukan ekspansi mengembangkan usahanya.

NyaringIndonesia.com – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memberi sinyal bahwa kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan segera dicabut. Pertimbangan tersebut, berdasarkan angka kasus harian COVID-19 yang sudah berada di bawah angka 1.000 kasus.

Namun menurut para ekonom, kebijakan itu dinilai tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi di 2023 mendatang, mengingat sejak beberapa bulan belakangan pembatasan sudah semakin memudar.

“Sejauh ini, penghapusan PPKM tidak akan banyak mempengaruhi perekonomian Indonesia tahun depan, karena dalam praktiknya saat ini sebenarnya juga tidak banyak beda antara ada PPKM ataupun tidak,” ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Rabu (28/12/2022).

Dilansir NyaringIndonesia.com dari detik.com, Faisal mengatakan bahwa pencabutan PPKM hanya akan meneruskan tren sebelumnya saja, meski konsumsi keduanya tetap akan lebih tinggi ketimbang saat sebelum pandemi.

Hal serupa juga disampaikan Direktur Segara Institut Piter Abdullah. Menurutnya, dampak PPKM saat ini sudah tidak terlalu terasa. Namun demikian, Piter mengatakan, pencabutan ini bila terwujud, tetap akan berdampak pada percepatan pemulihan ekonomi.
Advertisement

BACA JUGA:  Unjani Dampingi Pelaku UMKM Kota Cimahi Agar Mendapatkan Sertifikat Halal

“Masyarakat sudah hampir pulih aktivitas nya. Tapi kalau pemerintah benar-benar menghentikan PPKM, maka hal ini tidak hanya mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat tetapi juga meningkatkan confident dunia usaha. Saya kira ini akan semakin mendorong percepatan pemulihan ekonomi,” kata Piter.

Senada dengan para ekonom lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga berpendapat pencabutan itu akan mendorong pemulihan mobilitas masyarakat, yang juga dapat membantu Indonesia memenuhi target pertumbuhan 4,3% di 2023.

“Salah satu faktornya memang ada pemulihan mobilitas pertumbuhan masyarakat. Terutama belanja di sektor ritelnya meningkat, perdagangan besar dan ecerannya naik, kemudian masyarakat akan mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk transportasi,” ujar Bhima.

Untuk itu, kata Bhima, momentum ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya. Terutama pada sektor pariwisata yang pemulihannya berpotensi paling cepat pasca pencabutan PPKM. Hal ini terlihat dari pertumbuhan industrinya yang rata-rata naik double digit atau diatas 10%, dimulai pada kuartal III 2022.

BACA JUGA:  Kang Emil mengapresiasi digitalisasi Pasar Sukatani Depok

“Pelaku usaha sudah bisa menyiapkan investasi untuk perluasan skala usaha. sehingga ketika tahun depan ada permintaan yang meningkat, sudah siap kapasitas produksinya, sudah siap kapasitas pelayanan jasa,” kata Bhima.

Kendati demikian, Bhima mengingatkan para pelaku usaha agar tetap mewaspadai beberapa tekanan ekonomi global di 2023. Pengusaha yang mau melakukan ekspansi juga tetap perlu mempersiapkannya secara terukur.

“Tapi juga perlu mewaspadai beberapa tekanan ekonomi yang berpengaruh, misalnya pada segmen kelas menengah, mulai dari inflasi dan kenaikan suku bunga. Jadi kalaupun dilakukan ekspansi, ekspansi yang terukur dan tergantung segmen konsumen mana yang disasar,” terang Bhima.

Sementara itu, Pakar Bisnis Profesor Rhenald Kasali beranggapan, justru momentum ini menjadi lampu hijau bagi sebagian besar pengusaha untuk melakukan ekspansi bisnis.

BACA JUGA:  Pandemi Melandai, Perupa Kota Cimahi Luapkan Melukis OTS

“Malah harus ekspansi. Karena pelajaran dari masa RI krisis, krisis itu menandakan kalau konsumen berubah. Kalau orang tidak ekspansi yang terjadi mereka akan tersingkir,” ujar Rhenald,

Rhenald pun mencontohkan beberapa kasus saat krisis 98 melanda. Saat itu, Sido Muncul berhasil keluar sebagai perusahaan herbal terbesar di Indonesia karena melakukan ekspansi. Begitupun Ranch Market yang membuka toko pertamanya di 1998 dan Alfamart di 1999.

Di sisi lain, Rhenald tidak menampik kalau sebagian pebisnis juga menyambut momentum 2023 dengan rambu lampu kuning. Mereka didominasi oleh para pebisnis yang punya aset sewaan maupun terikat dengan komoditas global, seperti mempergunakan barang impor hingga bermain dengan dolar Amerika Serikat (AS).

“Hal itulah yang membuat para pengusaha up and down, maju mundur. Tapi konsumennya sudah tidak mau mundur, konsumennya ingin konsumsi,” katanya.

BERITA TERBARU