Sandi Supyandi: Lingkungan Bandung Barat Rusak karena Penanganan Setengah Hati

IMG 20260517 WA0017

Ketua Komisi I DPRD KBB Sandi Supyandi menilai persoalan eceng gondok hingga kebersihan lingkungan terus berulang akibat lemahnya sinergi dan penanganan yang masih parsial.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

BANDUNG BARAT, NYARINGINDONESIA.COM – Persoalan lingkungan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi sorotan. Mulai dari ledakan populasi eceng gondok di kawasan Waduk Saguling, buruknya kebersihan lingkungan, hingga ancaman penyakit berbasis lingkungan disebut terus terjadi tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas.

Kondisi tersebut dinilai mencerminkan lemahnya koordinasi lintas instansi, baik di tingkat pemerintah daerah maupun dengan pihak pengelola kawasan. Penanganan yang masih berjalan secara parsial dianggap membuat masalah lingkungan terus berulang dari tahun ke tahun.

Ketua Komisi I DPRD Bandung Barat, Sandi Supyandi, menegaskan sudah saatnya penanganan lingkungan dilakukan secara terpadu dan tidak lagi dengan pola saling menunggu.

“Ini harus ada gerakan bersama. Semua elemen harus terlibat, baik masyarakat, tokoh masyarakat, maupun pemerintah. Jangan hanya berpangku tangan melihat persoalan lingkungan terus menumpuk,” kata Sandi, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan paling krusial saat ini adalah penyebaran eceng gondok di Waduk Saguling yang hingga kini belum ditangani maksimal.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa itu menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah cepat dan konkret dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan.

Ia juga menyinggung minimnya kesiapsiagaan penanganan di lapangan, termasuk saat Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, turun langsung meninjau kawasan terdampak.

“Kemarin Pak Wabup pulang dari peninjauan malah terlihat ada gigitan nyamuk. Ini menunjukkan persoalan lingkungan memang nyata di lapangan,” ujarnya.

Karena itu, Sandi meminta PT PLN Indonesia Power tidak berhenti pada koordinasi administratif semata, tetapi segera mengambil langkah teknis untuk menangani persoalan eceng gondok.

“Seharusnya Indonesia Power segera menurunkan alat berat untuk pembersihan eceng gondok,” tegasnya.

Menurut Sandi, lemahnya sinergi antara pemerintah daerah dan pihak pengelola kawasan membuat penanganan masalah berjalan lambat, padahal dampaknya langsung dirasakan masyarakat sekitar.

Di sisi lain, ia menilai masyarakat sebenarnya memiliki potensi besar untuk dilibatkan dalam gerakan penanganan lingkungan, asalkan mendapatkan pendampingan yang konsisten dari pemerintah.

“Kondisi masyarakat itu tergantung bagaimana digerakkan oleh pemerintah. Kalau didampingi secara istiqomah, mereka akan ikut,” ungkapnya.

Sandi juga mengkritik pola pendekatan pemerintah yang dinilai masih terlalu fokus pada bantuan material, sementara pembinaan kesadaran kolektif masyarakat belum berjalan optimal.

“Kehadiran pemerintah bukan sekadar memberi materi, tetapi memberi inspirasi, memberi arah jalan yang baik, dan terus hadir bersama masyarakat,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai sosial seperti gotong royong serta filosofi silih asah, silih asuh, dan silih asih perlahan mulai terkikis akibat birokrasi yang terlalu administratif dan minim pendekatan sosial.

“Kesadaran bernegara itu bukan saling lempar tanggung jawab. Kita harus sadar posisi dan sadar diri dalam menjaga lingkungan,” tegasnya.

Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah hingga unsur Forkopimda dan Forkopimcam kini ikut dipertaruhkan dalam penyelesaian persoalan lingkungan yang tak kunjung selesai.

“Rembug warga harus didengar. Jangan sampai masyarakat merasa persoalannya dibiarkan tanpa solusi,” sindirnya.

Di akhir pernyataannya, Sandi menegaskan birokrasi modern seharusnya mampu menghadirkan solusi konkret di lapangan, bukan sekadar berhenti pada laporan administratif.

“Permasalahan lingkungan kita sudah menumpuk. Pemerintah harus hadir mengurai keresahan masyarakat dengan solusi teknokratis dan teknis yang nyata,” pungkasnya.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News