Sesar Cugenang Ancam 9 Desa, BMKG Minta Cepat Reloksikan

BMKG ingatkan desa yang berada di patahan baru Cugenang agar segera di relokasi (foto, instagram @dongenggeologi).

NyaringIndonesia.com — Sesar Cugenang patahan baru yang memiliki radius panjang 9 kilometer tepat berada di 9 desa di Jawa Barat. BMKG sarankan desa yang berada patahan tersebut untuk direlokasi.

Gempa Cianjur ternyata bukan berasal dari sesar Cimandiri melainkan dari patahan baru di Jawa Barat dengan kekuatan Magnitudo 5,6. Bahkan sesar Cugenang kekuatan bisa lebih dasyat dari sesar Cimandiri.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa gempa yang mengguncang Cianjur dengan Magnitudo 5,6.disebabkan adanya pergeseran patahan baru, yakni Sesar Cugenang.

“Hasil dari penelusuran, telah ditemukan adanya patahan baru yang teridentifikasi,” tuturnya dalam konferensi pers daring pada, Kamis (8/12/22).

“Dikarenakan patahan ini melewati Kecamatan Cugenang, maka diberi nama Patahan Cugenang,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakahuni Ditutup Sementara

Ia tmenyatakan jika patahan yang baru saja terbentuk atau telah ditemukan, ini melewati 9 desa dua kecamatan dengan lintasan yang mengarah barat laut tenggara.

Dari 9 desa yang dilewati oleh patahan ini adalah 8 desa yang berada di Kecamatan Cugenang yakni, Desa Benjot, Desa Nyalindung, Desa Ciherang, Desa Ciputri, Desa Cibeureum, Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, serta Desa Cibulakan. Sementara desa lain yang terkena dari patahan ini yaitu Desa Nagrak Kecamatan Cianjur.

“Patahan ini memiliki panjang 9 kilometer, dengan radius berbahaya dari kiri dan kanannya sekitar 300 hingga 500 meter,” tuturnya.

Atas hasil survey tersebut, zona berbahaya yang direkomendasikan untuk direlokasi mencapai 8.09 kilometer persegi dengan total kurang lebih 1.800 rumah warga.

BACA JUGA:  Peringati HUT ke-76, Pussenarhanud Gelar Bakti Sosial

“Lahan itu masih bisa dimanfaatkan untuk kawasan non struktural, bisa menjadi lahan persawahan, dihijaukan, serapan, konservasi, serta tempat wisata tanpa bangunan hotel,” jelasnya.

“Untuk konsepnya ruang terbuka tanpa adanya bangunan, sehingga bila terjadi gempa takkan ada korban jiwa serta reruntuhan bangunan,” lanjutnya

Ia menambahkan, selain dari Sesar Cugenang, pihaknya juga telah menghimbau kepada pemerintah untuk memperhatikan sesar aktif lainnya. Dan diharapkan peta sesar yang sudah ada menjadi salah satu acuan untuk tata ruang wilayah yang akan terdampak.

BERITA TERBARU