SETARA Institute: Serangan Terhadap Andrie Yunus Menakut-nakuti Para Pembela HAM

1773545486782

Jakarta, NyaringIndonesia.com – SETARA Institute mengecam keras serangan penyiraman air keras yang dialami Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus. Lembaga tersebut menilai serangan ini sebagai tindakan kekerasan serius yang dapat mengancam kebebasan sipil di Indonesia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Menurut SETARA Institute, serangan itu tidak hanya menargetkan Andrie secara pribadi, tetapi juga berpotensi menakut-nakuti para pembela hak asasi manusia (HAM) yang selama ini mengawasi jalannya kekuasaan dan memperjuangkan hak-hak konstitusional warga.

Peneliti HAM dan sektor keamanan SETARA Institute, Ikhsan Yosarie, mengatakan peristiwa ini dapat menimbulkan rasa takut yang luas di masyarakat.

“Serangan ini berpotensi membungkam kritik publik karena menimbulkan efek ketakutan yang meluas (chilling effect),” kata Ikhsan dalam keterangan tertulis pada Ahad, 15 Maret 2026.

Andrie diserang oleh orang tak dikenal pada Kamis malam, 12 Maret 2026, dengan cara disiram air keras. Kejadian itu terjadi setelah ia selesai melakukan siaran siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar pada sekitar 24 persen bagian tubuhnya.

SETARA Institute menilai peristiwa ini harus menjadi peringatan bagi negara untuk memperkuat perlindungan terhadap para pembela HAM di Indonesia. Lembaga itu menegaskan bahwa kerja advokasi yang dilakukan pembela HAM sangat penting untuk menjaga keadilan, demokrasi, dan penghormatan terhadap HAM.

“Melindungi pembela HAM berarti juga melindungi demokrasi,” ujar Ikhsan. Ia menambahkan, ketika rasa takut membuat masyarakat enggan menyampaikan pendapat di ruang publik, maka salah satu fondasi utama demokrasi akan melemah.

Ikhsan juga menilai ketidakmampuan negara dalam melindungi pembela HAM bukan hanya masalah keamanan individu, tetapi juga dapat membuka ruang bagi melemahnya demokrasi.

SETARA Institute mendesak kepolisian segera melakukan penyelidikan secara cepat, independen, dan transparan untuk mengungkap semua pelaku, termasuk kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan tersebut. Lembaga itu juga meminta agar proses penanganan kasus disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Selain itu, SETARA Institute mengajak masyarakat sipil, akademisi, dan media untuk bersama-sama mengawal proses hukum agar kasus ini tidak berakhir tanpa kejelasan (impunitas) serta memastikan kebebasan sipil di Indonesia tetap terlindungi dari kekerasan dan intimidasi.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News