SPMB Jabar dirancang lebih mudah sehingga masyarakat tidak perlu terburu-buru atau merasa cemas.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!BANDUNG, NYARINGINDONESIA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau para orang tua calon peserta didik untuk tetap tenang dalam menghadapi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Ia menegaskan proses pendaftaran yang berlangsung mulai 15 Juni hingga 14 Juli 2026 kini dirancang lebih mudah sehingga masyarakat tidak perlu terburu-buru atau merasa cemas.
Menurut Dedi, data calon siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan SMK sudah tersimpan dalam sistem sehingga orang tua tidak lagi harus melakukan pendaftaran dari tahap awal seperti sebelumnya.
“SPMB sudah dibuka mulai 15 Juni sampai 14 Juli 2026. Siswa yang akan masuk SMA dan SMK pada dasarnya sudah terdata dalam sistem,” kata Dedi.
Ia menjelaskan, peserta hanya perlu memastikan seluruh dokumen dan persyaratan yang dibutuhkan telah lengkap. Setelah itu, proses pendaftaran dapat dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang tersedia pada aplikasi SPMB.
“Kalau persyaratan sudah lengkap, tinggal mengikuti langkah-langkah yang ada di aplikasi sesuai petunjuk teknis,” ujarnya.
Banyak Sekolah Negeri Masih Memiliki Kuota
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait peluang diterima di sekolah negeri, Dedi menyampaikan bahwa hasil pemetaan pemerintah menunjukkan masih terdapat sejumlah sekolah negeri yang belum terisi penuh.
Karena itu, ia meminta para orang tua dan calon peserta didik untuk mempertimbangkan berbagai pilihan sekolah yang tersedia, bukan hanya berfokus pada sekolah-sekolah yang menjadi favorit dan telah dipadati pendaftar.
“Dari data yang kami miliki, masih banyak sekolah negeri yang kuotanya belum terpenuhi. Kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan dan tidak hanya terpaku pada sekolah yang peminatnya sangat banyak,” tuturnya.
Bagi siswa yang tinggal di daerah perbatasan, Dedi juga mendorong pemanfaatan sekolah penyangga yang telah disiapkan pemerintah guna memperluas akses pendidikan.
Menurutnya, keberadaan sekolah penyangga dapat menjadi solusi agar seluruh anak tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak.
SMA Terbuka Jadi Alternatif
Selain sekolah reguler, Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut menyediakan SMA Terbuka bagi siswa yang memiliki kendala untuk mengikuti pembelajaran tatap muka secara rutin setiap hari.
Dedi menegaskan bahwa SMA Terbuka merupakan bagian dari sekolah negeri sehingga lulusannya tetap memperoleh ijazah resmi yang memiliki kekuatan hukum dan pengakuan yang sama dengan sekolah negeri lainnya.
“Bagi yang tidak memungkinkan hadir setiap hari ke sekolah, SMA Terbuka bisa menjadi pilihan. Ijazah yang diterima tetap ijazah negeri,” katanya.
Pemprov Gandeng 700 Sekolah Swasta
Dedi menambahkan, kesempatan memperoleh pendidikan tidak hanya tersedia di sekolah negeri. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menjalin kemitraan dengan sekitar 700 sekolah swasta untuk mendukung pemerataan akses pendidikan bagi siswa yang belum tertampung di sekolah negeri.
Informasi tersebut diperoleh dari Dinas Pendidikan Jawa Barat yang terus memperluas kerja sama dengan sekolah swasta di berbagai daerah.
“Sekitar 700 sekolah swasta telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” ungkap Dedi.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut akan diperkuat melalui Program Beasiswa Pancawaluya. Melalui program ini, siswa yang bersekolah di lembaga swasta mitra pemerintah tidak akan dikenakan biaya pendidikan karena pembiayaannya ditanggung melalui skema beasiswa dari pemerintah daerah.
“Ke depan, baik siswa di sekolah negeri maupun sekolah swasta yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi akan mendapatkan dukungan pembiayaan melalui Beasiswa Pancawaluya sehingga tidak ada lagi beban biaya sekolah,” jelasnya.

