Tak Ada Lagi Sekat antara Pendidikan Formal dan Nonformal di Cimahi

IMG 20260602 225147
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Cimahi, Hendra Gunawan, menegaskan bahwa saat ini masyarakat tidak lagi perlu membedakan pendidikan berdasarkan jalurnya. Menurutnya, baik pendidikan formal maupun nonformal telah memperoleh pengakuan yang setara dan sama-sama memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri

 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Pendidikan di Kota Cimahi kini memasuki babak baru. Perbedaan antara jalur pendidikan formal dan nonformal yang selama ini kerap menjadi stigma perlahan mulai hilang seiring meningkatnya pengakuan terhadap pendidikan kesetaraan.

Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan Gebyar Peserta Didik Pendidikan Kesetaraan (Pesdiktara) 2026 yang menampilkan berbagai potensi dan prestasi peserta didik dari PKBM dan SKB se-Kota Cimahi. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan kini memiliki posisi yang sejajar dengan pendidikan formal.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Cimahi, Hendra Gunawan, menegaskan bahwa saat ini masyarakat tidak lagi perlu membedakan pendidikan berdasarkan jalurnya. Menurutnya, baik pendidikan formal maupun nonformal telah memperoleh pengakuan yang setara dan sama-sama memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri.

“Sekarang sudah tidak ada lagi istilah pendidikan formal atau nonformal yang dipandang berbeda. Keduanya memiliki kedudukan yang sama dan masyarakat bisa memilih sesuai kebutuhan masing-masing,” ujar Hendra. Selasa (02/06/26).

Ia menilai perubahan tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Pendidikan bersama seluruh PKBM dan SKB. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga pendidikan kesetaraan berhasil menunjukkan kualitasnya sehingga semakin dipercaya masyarakat.

Menurut Hendra, kondisi saat ini sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika PKBM masih dipandang sebelah mata. Kini, lembaga pendidikan kesetaraan justru menjadi pilihan bagi banyak warga, termasuk mereka yang harus membagi waktu antara belajar dan bekerja.

“Dulu kami sempat berpikir bagaimana masa depan PKBM. Namun empat tahun terakhir perkembangannya luar biasa. Minat masyarakat meningkat dan kualitas peserta didiknya juga semakin baik,” katanya.

Kesetaraan pengakuan tersebut juga tercermin dari beragam penampilan yang ditunjukkan peserta dalam Gebyar Pesdiktara 2026. Mulai dari film pendek, seni tari, musik, vokal hingga olahraga futsal menjadi wadah bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

Hendra menegaskan bahwa potensi peserta didik pendidikan kesetaraan tidak kalah dengan siswa dari jalur pendidikan formal. Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program pengembangan bakat agar kemampuan mereka semakin terasah dan mendapat ruang untuk berkembang.

“Jangan sampai ada anggapan mereka tertinggal hanya karena menempuh jalur pendidikan yang berbeda. Yang terpenting adalah kualitas, kompetensi, dan kesempatan yang diberikan kepada mereka,” tuturnya.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Cimahi memastikan dukungan terhadap pendidikan kesetaraan tetap menjadi perhatian. Selain melalui anggaran pemerintah, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program CSR, juga terus diperkuat.

Bagi Hendra, keberhasilan pendidikan kesetaraan tidak hanya diukur dari jumlah peserta didik, tetapi juga dari semakin hilangnya stigma yang selama ini membedakan pendidikan formal dan nonformal.

“Perubahan ini harus terus dijaga. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang jalur pendidikan yang dipilih,” pungkasnya. (Bzo)