Tanggapan Dedi Mulyadi Untuk Komika Pandji Pragiwaksono

komika Pandji Pragiwaksono

Cimahi, NyaringIndonesia.com – Jagat media sosial kembali memanas, kali ini dipicu oleh materi stand-up comedy. Potongan pertunjukan spesial Mens Rea milik komika Pandji Pragiwaksono mendadak viral dan memantik perdebatan luas, terutama karena kritiknya terhadap cara sebagian masyarakat memilih pemimpin.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Video tersebut menyebar cepat di berbagai platform digital. Di dalamnya, Pandji menyampaikan kritik sosial-politik yang dibungkus humor, namun dengan nada tajam. Salah satu bagian yang paling disorot adalah pernyataannya mengenai warga Jawa Barat khususnya masyarakat Sunda yang disebutnya cenderung memilih pemimpin berdasarkan popularitas, bukan kapasitas.

Pernyataan itu segera menuai reaksi. Warganet ramai-ramai angkat suara, demikian pula sejumlah tokoh publik. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, termasuk yang merespons langsung kritik tersebut.

Melalui akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, pada Minggu (4/1/2026), Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) menanggapi pernyataan Pandji. Ia menolak anggapan bahwa latar belakang artis identik dengan ketidakmampuan memimpin.

Menurut Dedi, generalisasi semacam itu tidak sepenuhnya tepat. Ia mencontohkan Dede Yusuf, figur publik yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat.

“Walaupun artis, saya mengakui secara jujur Pak Dede Yusuf punya pemahaman pembangunan yang relatif sangat baik. Sekarang dua kali menjadi pimpinan komisi di DPR RI, dan cara berpikir pembangunannya juga sangat baik,” ujar Dedi.

Dedi juga menyinggung label yang kerap dilekatkan pada dirinya sebagai “gubernur YouTuber”. Menurutnya, penilaian terhadap kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada latar belakang atau medium komunikasi.

“Saya sendiri yang dianggap gubernur YouTuber, saya tidak boleh menguji diri saya sendiri. Baik atau tidak, itu publik yang menilai,” tambahnya.

Unggahan tersebut kembali viral dan memperpanjang diskusi di ruang digital.

Tak lama setelah video Dedi Mulyadi diunggah, Pandji Pragiwaksono muncul di kolom komentar. Alih-alih memberikan klarifikasi panjang atau bantahan substantif, Pandji memilih respons singkat bernada santun.

“Salam kenal Kang Dedi, Alhamdulillah ini jadi jembatan perkenalan kita ya,” tulis Pandji melalui akun Instagram @pandji.pragiwaksono, Minggu (4/1/2026).

Komentar singkat tersebut justru memantik reaksi beragam. Sebagian warganet menilai Pandji bersikap dewasa dan meredam polemik, sementara yang lain menganggapnya menghindari substansi kritik.

Sebelumnya, Pandji memang menjadi sorotan setelah Mens Rea menampilkan kritik sosial-politik yang sensitif namun dibalut humor. Salah satu segmen yang paling banyak dibicarakan adalah kritik terhadap pemilih yang menentukan pilihan politik semata berdasarkan popularitas.

“Ada lagi yang milih berdasarkan yang populer. Gue nggak tahu nih orang bisa kerja atau enggak. Gue nggak tahu akhlaknya, pokoknya populer aja,” ujar Pandji di atas panggung.

Ia lalu mencontohkan Jawa Barat sebagai wilayah yang menurutnya paling kentara dengan fenomena tersebut.

“Masalah terbesar untuk hal ini ada di Jawa Barat. Orang Sunda,” lanjutnya.

Pandji menyebut sejumlah tokoh berlatar belakang dunia hiburan yang pernah atau sedang menjabat di posisi politik.

“Gubernur mereka waktu itu Deddy Mizwar, artis film. Wakil gubernurnya Dede Yusuf, artis TV. Sekarang gubernurnya, Dedi Mulyadi, artis YouTube,” kata Pandji, disambut tawa penonton.

Pernyataan itu, meski disampaikan dalam format komedi, dinilai sebagian publik menyentuh wilayah sensitif identitas dan preferensi politik.

Menanggapi polemik tersebut, Dedi Mulyadi memilih pendekatan reflektif. Ia menyebut kritik Pandji sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang sehat dan perlu.

Menurut Dedi, Pandji dikenal konsisten menyampaikan kritik sosial dan politik dengan cara yang menghibur namun sarat pesan.

“Setiap pernyataannya menggelitik, korektif, dan edukatif,” kata Dedi.

Ia kembali menekankan bahwa tidak semua figur publik dari kalangan artis otomatis gagal dalam politik. Beberapa, menurutnya, justru menunjukkan kapasitas setelah terjun langsung ke arena pemerintahan.

Menutup pernyataannya, Dedi Mulyadi mengajak public termasuk Pandji untuk menilai kepemimpinannya berdasarkan hasil nyata, bukan semata citra di media sosial.

Ia bahkan mengundang Pandji untuk melihat langsung kondisi jalan dan pembangunan di Jawa Barat.

“Apakah saya hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan, itu bisa dilihat dari apa yang ada di lapangan,” ujarnya.

Dedi menegaskan keterbukaannya terhadap kritik dalam bentuk apa pun, termasuk kritik jenaka dari panggung komedi.

“Ini negara demokrasi. Setiap orang berhak menyampaikan pikiran dan gagasan, termasuk koreksi secara terbuka,” tutupnya.

 

=======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

Berita Utama