Analogi Keras dari QS Al-A’raf Ayat 176, KH Ahmad Musta’in Syafi’i Ingatkan Ulama Agar Tetap Independen
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Kritik tajam terhadap sikap sebagian ulama yang dinilai terlalu dekat dengan kekuasaan disampaikan ulama Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Musta’in Syafi’i. Dalam sebuah ceramah yang videonya beredar di media sosial, ia mengingatkan agar masyarakat tidak memilih sosok ulama atau kiai yang dianggap kehilangan sikap kritis karena kepentingan tertentu.
Musta’in menyampaikan kritik tersebut dengan menggunakan perumpamaan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ia merujuk pada QS Al-A’raf ayat 176 yang menggambarkan seseorang yang mengikuti hawa nafsunya dengan perumpamaan seekor anjing.
“Itu yang bilang bukan saya, tapi Al-Qur’an,” kata Musta’in dalam potongan video tersebut.
Ayat yang dimaksud menggambarkan anjing yang menjulurkan lidahnya, baik ketika dihalau maupun ketika dibiarkan. Perumpamaan inilah yang kemudian digunakan Musta’in untuk menyampaikan pesan moral mengenai perilaku seseorang yang dinilai terus mengikuti dorongan hawa nafsunya.
Dalam ceramahnya, ia secara tegas mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam memilih tokoh agama.
“Jangan memilih ulama atau kiai yang senang menjilat seperti anjing,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian karena pilihan analogi yang digunakan terbilang keras. Meski demikian, potongan video yang beredar tidak menunjukkan adanya penyebutan nama pejabat, tokoh politik, maupun pihak tertentu yang secara spesifik menjadi sasaran pernyataan.
Karena itu, pesan Musta’in lebih dapat dibaca sebagai kritik umum terhadap perilaku ulama yang dianggap terlalu larut dalam kedekatan dengan penguasa.
Pesan utamanya adalah pentingnya menjaga independensi tokoh agama agar tetap mampu menyampaikan nasihat dan kritik secara objektif, tanpa terikat kepentingan kekuasaan maupun keuntungan pribadi.
Kritik tersebut sekaligus membuka kembali perbincangan mengenai posisi ulama di tengah relasi agama dan kekuasaan: apakah menjadi mitra kritis pemerintah atau justru ikut terseret dalam pusaran kepentingan politik.

