The Lead Institute Paramadina: Di Era Digital, Cinta Perlu Berubah dari Pencarian Validasi Menuju Solidaritas Sosial

PIEC Paramadina Hubbud Dunya di Era Digital

Diskusi diruang digital menjadi salah satu alternatif pemanfaatan teknologi

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial, makna cinta semakin menghadapi tantangan baru. Banyak orang merasa terdorong untuk terus menampilkan citra terbaik, mencari pengakuan, dan membuktikan kebahagiaan mereka di ruang digital. Akibatnya, hubungan antarmanusia kerap menjadi lebih rapuh, dangkal, dan mudah dipengaruhi tren sesaat.

Fenomena seperti flexing, budaya viral, hingga rasa takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO) kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat digital. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah cinta masih dimaknai sebagai hubungan yang tulus, atau sekadar sarana memperoleh validasi sosial?

Isu tersebut menjadi fokus dalam Kajian Filsafat dan Agama Seri Kedua bertajuk “Hubbud-Dunya di Era Digital” yang diselenggarakan oleh The Lead Institute Universitas Paramadina bekerja sama dengan MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation pada 29 Mei 2025.

Dipandu oleh peneliti The Lead Institute, Nurma Komala, diskusi ini mengupas konsep cinta dari dua sudut pandang besar. Pertama, gagasan filsuf Mazhab Frankfurt, Erich Fromm, yang melihat cinta sebagai sebuah seni yang harus dipelajari. Kedua, pemikiran cendekiawan muslim Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang memandang cinta sebagai jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa menurut Erich Fromm, cinta bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Cinta merupakan kemampuan yang perlu diasah melalui latihan dan kesadaran. Namun, manusia modern sering kali lebih sibuk berusaha menjadi pribadi yang dicintai daripada belajar bagaimana mencintai orang lain.

Menurut Yayah, Fromm menegaskan bahwa cinta bukanlah kepemilikan maupun hubungan yang bersifat transaksional. Sebaliknya, cinta merupakan tindakan aktif yang diwujudkan melalui perhatian, tanggung jawab, penghormatan, dan pemahaman terhadap sesama.

Di tengah budaya pencitraan dan kebutuhan akan pengakuan di media sosial, relasi antarmanusia berisiko kehilangan kedalaman makna. Banyak orang mengejar perhatian publik, tetapi justru semakin jauh dari hubungan sosial yang sehat dan autentik.

Karena itu, Yayah menilai cinta seharusnya dipahami sebagai praktik yang aktif dan nyata. Cinta tidak cukup berhenti pada perasaan, melainkan harus hadir dalam tindakan yang mendukung kelompok rentan, memperkuat solidaritas, serta menjaga kehidupan bersama.

“Cinta dalam konteks kemanusiaan universal bukan hanya urusan perasaan pribadi. Cinta harus menjadi energi positif yang diwujudkan melalui kepedulian sosial dan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua The Lead Institute, Suratno Muchoeri, mengulas pandangan Cak Nur tentang cinta sebagai jalan taqarrub ilallah atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam perspektif ini, manusia perlu waspada terhadap hubbud-dunya, yaitu kecintaan berlebihan pada dunia dan berbagai simbolnya, seperti kekayaan, popularitas, maupun kenikmatan sesaat.

Menurut Suratno, gejala tersebut kini hadir dalam bentuk yang lebih modern, seperti budaya flexing, ketergantungan pada gawai, obsesi terhadap viralitas, hingga kebutuhan yang terus-menerus untuk memperoleh validasi dari orang lain.

Mengacu pada pemikiran Cak Nur, Suratno menyebut fenomena tersebut sebagai salah satu tantangan spiritual masyarakat modern. Sebab, ketika manusia terlalu berfokus pada pengakuan dan pencitraan, mereka berisiko kehilangan kejernihan batin dan makna hidup yang lebih mendalam.

“Dalam pandangan Cak Nur, cinta bukan sekadar urusan pribadi. Cinta adalah kekuatan moral dan spiritual yang membimbing manusia untuk menjadi lebih bijaksana, penuh empati, dan bertanggung jawab terhadap sesama,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa cinta yang sehat tidak berhenti pada perasaan individual. Cinta harus tercermin dalam sikap hidup, perilaku sosial, dan kepedulian terhadap kemanusiaan. Di situlah makna cinta yang sesungguhnya.

Meskipun lahir dari tradisi pemikiran yang berbeda, Erich Fromm dan Nurcholish Madjid memiliki kesamaan pandangan. Keduanya menolak bentuk cinta yang dangkal dan berpusat pada ego. Bagi mereka, cinta adalah kekuatan yang membebaskan manusia, membangun kedewasaan, serta memperkuat solidaritas sosial.

“Baik Fromm maupun Cak Nur melihat cinta bukan sebagai emosi pasif yang datang dan pergi. Cinta adalah seni, tindakan sadar, sekaligus komitmen untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama,” tutup Suratno.