Trump Setujui Gencatan Senjata 14 Hari dengan Iran, Hindari Eskalasi Militer di Selat Hormuz

1775629734743
Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel, setuju untuk menangguhkan rencana serangan udara terhadap target-target strategis seperti pembangkit listrik dan jembatan di wilayah Iran.

WASHINGTON D.C, NyaringIndonesia.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada Selasa malam, 7 April 2026.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Keputusan strategis ini diambil hanya beberapa jam sebelum berakhirnya tenggat waktu (ultimatum) pukul 20.00 waktu setempat, yang sebelumnya mengancam akan memicu serangan militer besar-besaran terhadap infrastruktur vital Iran.

Langkah diplomatik ini menandai titik balik penting dalam konflik yang telah berlangsung selama 39 hari. Sebagai bagian dari kesepakatan, Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel, setuju untuk menangguhkan rencana serangan udara terhadap target-target strategis seperti pembangkit listrik dan jembatan di wilayah Iran.

Sebagai imbalan, Iran berkomitmen untuk segera membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dan aman bagi lalu lintas kapal tanker internasional, mengingat jalur tersebut menyalurkan hampir seperlima konsumsi minyak global.

Presiden Trump menyampaikan melalui pernyataan resminya bahwa keputusan ini didasarkan pada tercapainya target-target militer awal serta adanya proposal perdamaian yang diajukan oleh Teheran.

“Militer kita telah mencapai target objektif yang luar biasa. Iran telah mengajukan proposal yang masuk akal, dan saya memutuskan untuk memberikan kesempatan bagi perdamaian selama 14 hari ke depan. Namun, jika mereka melanggar, konsekuensinya akan sangat cepat dan mematikan,” tegas Trump melalui platform media sosialnya.

Di sisi lain, mediasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menjadi faktor kunci dalam tercapainya jeda kemanusiaan ini. Sharif menyatakan bahwa dunia internasional menyambut baik kebijakan Washington yang mengedepankan jalur diplomasi demi menghindari kehancuran warga sipil dan guncangan ekonomi global yang lebih dalam.

Pihak Teheran melalui Dewan Keamanan Nasionalnya juga menegaskan komitmen mereka pada penyelesaian politik yang adil, seraya menuntut pencairan aset yang dibekukan dan pengakuan kedaulatan sebagai bagian dari kesepakatan akhir (Proposal 10 Poin).

Meskipun tensi di kawasan Teluk sedikit mereda dan harga minyak dunia mulai menunjukkan tren stabilisasi, situasi tetap berada dalam status siaga tinggi.

Gedung Putih menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tetap dalam posisi siap tempur (locked and loaded) jika Iran gagal memenuhi komitmennya selama masa gencatan senjata dua minggu ini.

Fokus dunia kini tertuju pada meja negosiasi untuk melihat apakah jeda ini akan berlanjut menjadi perdamaian permanen atau sekadar penundaan konflik yang lebih besar. (Gils)