Penggunaan BBM di bawah spesifikasi kendaraan disebut berisiko memicu overheat, knocking, hingga kerusakan mesin dengan biaya perbaikan belasan juta rupiah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat sebagian pengendara mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran. Salah satu langkah yang kini banyak dilakukan adalah menurunkan kadar oktan bahan bakar atau beralih ke BBM dengan kualitas lebih rendah.
Namun, langkah tersebut ternyata menyimpan risiko serius bagi kesehatan mesin kendaraan.
Melansir dari pemberitaan KompasTV pada Selasa (21/04/2026), pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan bahwa penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan dapat menurunkan performa mesin hingga memicu kerusakan fatal.
Menurut Yannes, fenomena “downgrade” BBM mulai marak setelah PT Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM per 18 April 2026.
Harga Pertamax Turbo diketahui naik hingga Rp19.400 per liter, sementara lini Dex Series juga melonjak hingga menyentuh kisaran Rp23 ribuan per liter.
Kondisi tersebut membuat selisih harga dengan BBM subsidi maupun Pertamax (RON 92) semakin lebar.
“Mesin kendaraan modern dirancang dengan rasio kompresi tertentu. Kalau dipaksa memakai oktan lebih rendah, dampaknya bisa langsung terasa pada performa dan usia mesin,” ujar Yannes.
Ia menjelaskan, penggunaan BBM di bawah standar dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna di ruang mesin.
Akibatnya, suhu mesin meningkat melebihi batas normal atau overheat. Selain itu, tenaga kendaraan juga akan terasa menurun karena efisiensi pembakaran tidak optimal.
Ironisnya, penggunaan BBM murah justru bisa membuat konsumsi bahan bakar lebih boros.
“Mesin akan membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang sama,” jelasnya.
Bahaya lainnya muncul dalam jangka menengah ketika kendaraan telah menempuh jarak 10 ribu hingga 20 ribu kilometer menggunakan BBM yang tidak sesuai spesifikasi.
Menurut Yannes, kondisi itu dapat memicu penumpukan deposit karbon di ruang bakar dan injektor.
Dampaknya, mesin menjadi kasar saat idle, akselerasi tersendat, hingga emisi gas buang meningkat.
Pemilik mobil modern dengan teknologi turbo dan rasio kompresi tinggi disebut menjadi kelompok paling rentan mengalami kerusakan.
Komponen seperti ring piston dapat mengalami keausan lebih cepat akibat pembakaran yang tidak stabil.
“Kalau sudah parah, kendaraan bisa sampai turun mesin atau overhaul,” katanya.
Selain menurunkan oktan, praktik mencampur dua jenis BBM juga dinilai berisiko.
Yannes menegaskan bahwa mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax bukan solusi penghematan yang tepat.
Pasalnya, masing-masing BBM memiliki formulasi aditif, densitas, dan karakter pembakaran berbeda.
Campuran tersebut dapat menghasilkan nilai oktan yang tidak stabil dan memicu knocking atau bunyi ketukan tidak normal pada mesin.
Tak hanya itu, endapan hasil pencampuran juga berpotensi menyumbat filter dan merusak sistem injeksi modern seperti Common Rail maupun Gasoline Direct Injection (GDI).
Biaya perbaikan sistem tersebut bahkan bisa mencapai belasan juta rupiah.
“Lebih bijak menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan daripada mengambil risiko kerusakan mesin,” tegasnya.
Saat ini, harga Pertamax masih berada di angka Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green dijual Rp12.900 per liter.
Adapun BBM subsidi seperti Pertalite dipatok Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga BBM, para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mempertimbangkan faktor harga, tetapi juga dampak jangka panjang terhadap kondisi kendaraan.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

