Warga RW 28 Kelurahan Melong Keluhkan Dampak Perluasan PT CAPP

IMG 20260825 082609
Sejumlah warga RW 28, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, mengeluhkan dampak yang mereka rasakan sejak pembangunan perluasan PT CAPP berlangsung.

CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Sejumlah warga RW 28, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, mengeluhkan dampak yang mereka rasakan sejak pembangunan perluasan PT CAPP berlangsung. Keluhan tersebut antara lain berupa getaran, keretakan rumah, munculnya air berbau menyengat, hingga banjir yang disebut warga semakin sering terjadi sejak pembangunan dimulai.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Seorang warga RW 28 RT 05 menceritakan, dampak pembangunan mulai dirasakan saat pekerjaan pembuatan pondasi PT CAPP berlangsung. Getaran dari alat berat yang digunakan dalam pembangunan disebut membuat rumahnya bergetar hingga mengalami keretakan di sejumlah bagian.

“Kalau mau lihat bekasnya masih terlihat. Itulah awal mulanya, dari pembuatan pondasi dengan alat yang bunyinya tok-tok-tok,” ujar warga tersebut saat menyampaikan keluhannya di hadapan jajaran dinas dan Asda 2 di Bale Warga RW 28 RT 05, Kelurahan Melong, Cimahi Selatan, Senin (24/08/26).

Menurutnya, getaran yang ditimbulkan pembangunan bahkan terasa seperti gempa. Kondisi tersebut membuat kenyamanan warga terganggu, termasuk kesulitan untuk beristirahat dengan tenang.

Ia mengatakan, selain getaran, warga juga mulai menemukan aliran air yang memiliki bau menyengat di sekitar rumahnya. Air tersebut disebut muncul meski tidak sedang turun hujan.

“Meski tak hujan, dari keramik keluar air yang beraroma menyengat, bau. Jika terkena tangan, saya merasakan gatal. Saat saya pel, terasa gatal-gatal di tangan,” ungkapnya.

Warga tersebut mengaku air berbau itu muncul dari sejumlah bagian rumah, mulai dari kamar hingga dapur. Bau tersebut, katanya, bahkan terasa di dalam ruangan.

Ia menduga munculnya air tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan sejak pembangunan perluasan berlangsung. Namun, dugaan tersebut hingga kini belum dapat dipastikan sebelum adanya hasil pemeriksaan atau uji laboratorium.

“Dulu sejak pertama kali menempati rumah sekitar tahun 2022, saya tidak pernah mengalami kebanjiran. Nah, sejak mulai pembangunan itu, hujan sedikit banjir, hujan sedikit banjir,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa pada 2025. Ia bahkan mengaku pernah harus mengepel rumah selama 11 hari akibat air yang masuk ke dalam rumah.

“Harus mengadu ke mana? Ke RT/RW sudah, tapi tidak ada jawaban,” ujarnya.

Untuk mengurangi dampak banjir, warga kemudian berupaya meninggikan atau memperbaiki bagian rumahnya. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena bau dari air yang masuk ke rumah masih dirasakan.

Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian setelah keluhan warga ramai diperbincangkan. Pemerintah juga disebut telah mengambil sampel air yang dikeluhkan warga untuk dilakukan pemeriksaan.

Namun, hingga Senin (24/8/2026), warga mengaku belum mengetahui hasil pemeriksaan tersebut.

“Wallahualam, hasilnya belum tahu sampai sekarang. Belum dijawab atau apa, saya juga tidak tahu,” pungkasnya. (Bzo)