Wisata Religi Keluarga Besar Pondok Pesantren Riyadhul Mubthadiin Purwakarta

IMG 20260615 WA0001 scaled
Wisata religi menelusuri Jejak Ulama, Menguatkan Iman, dan Mempererat Kebersamaan

PURWAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Keluarga besar Pondok Pesantren Riyadhul Mubthadiin yang berlokasi di Kampung Cipuspa, Desa Campakasari, melaksanakan kegiatan wisata religi dan napak tilas sejarah ke sejumlah situs penting di Provinsi Banten.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu 14 Juni 2026 ini berlangsung penuh khidmat, menjadi sarana untuk memperdalam wawasan keislaman sekaligus mengenang perjuangan para ulama dan pemimpin Islam terdahulu.

Perjalanan rombongan dilaksanakan dengan tertib menggunakan dua armada bus wisata milik Travel Squad Kimochi Campakasari yang dikelola oleh pengusaha muda setempat, Kang Ato. Sejak keberangkatan hingga kepulangan, suasana kebersamaan dan kekeluargaan begitu terasa di antara seluruh peserta.

Menyusuri Jejak Perjuangan Tokoh-Tokoh Islam

Rangkaian perjalanan diawali dengan ziarah ke makam para ulama dan tokoh penting yang memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di Nusantara.

Makam Abuya Uci

Tujuan pertama adalah makam Abuya Uci, seorang ulama kharismatik yang sangat dihormati masyarakat Banten dan sekitarnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang istiqamah dalam berdakwah serta membimbing umat melalui ilmu dan keteladanan akhlaknya. Ziarah ke tempat ini menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat menuntut ilmu dan meneladani nilai-nilai kesederhanaan serta ketakwaan.

Makam Sultan Maulana Yusuf

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke makam Sultan Maulana Yusuf, sultan ketiga Kesultanan Banten yang memimpin pada abad ke-16. Dalam masa pemerintahannya, Banten berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam terbesar di Nusantara. Kepemimpinan beliau dikenal bijaksana, tegas, serta mampu membawa kemajuan dalam bidang ekonomi dan pendidikan keagamaan.

Masjid Agung Banten dan Kompleks Makam Kesultanan

Rombongan juga mengunjungi Masjid Agung Banten yang dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten. Bangunan bersejarah ini menjadi simbol kejayaan peradaban Islam Nusantara dengan arsitektur yang memadukan berbagai unsur budaya.

Di kawasan yang sama terdapat kompleks pemakaman para sultan dan keluarga Kesultanan Banten. Tempat ini menjadi saksi perjalanan panjang penyebaran Islam yang berkembang secara damai dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat.

Kawasan Bersejarah Caringin

Destinasi berikutnya adalah kawasan Caringin yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Banten. Berbagai jejak peradaban masa lalu seperti bekas benteng pertahanan, saluran air kuno, serta sisa-sisa bangunan kerajaan memberikan gambaran nyata tentang kejayaan Banten pada masa lampau.

Tausiyah dan Doa Mengiringi Perjalanan

Sepanjang kegiatan, rombongan mendapat bimbingan dari para asatidz, yaitu Ustadz Nandang, Ustadz Atep, dan Ustadz Sulaeman. Di setiap lokasi ziarah, mereka memimpin doa bersama, menyampaikan tausiyah, serta menjelaskan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pendahulu agar dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup Perjalanan dengan Kebersamaan

Setelah menyelesaikan rangkaian ziarah dan kunjungan sejarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Anyer. Di lokasi ini, para peserta menikmati suasana pantai sambil beristirahat, bercengkerama, dan mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga besar pondok pesantren.

Kegiatan wisata religi dan sejarah ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap agama, memperkuat rasa nasionalisme, serta meningkatkan penghargaan terhadap jasa para ulama dan tokoh bangsa yang telah berkontribusi besar dalam perkembangan Islam di Indonesia.

Pengurus Pondok Pesantren Riyadhul Mubthadiin Kampung Cipuspa, Desa Campakasari. (AR)

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.